Ibu

Aku merasa paling berdosa. Ibu, lewat tulisan ini sertakan aku dalam munajat doamu.

Ibu,
Yang mulia
Ibu
Yang terhormat.
Ibu
Yang tercinta

Ibu,
Tubuhmu kejang dalam terik
Kepalamu belepotan dalam takaran
Wajahmu bias dalam metafor
Matamu bening dalam sajadah malam

Hidungmu akrab dalam ilalang ranjang
Kupingmu gosong dalam chaos
Bibirmu basah dalam diam
Tanganmu rekah dalam nampan
Kakimu riang dalam gemertak dahan
Lisanmu luruh dalam doa

Ibu, Tubuhku jatuh pada tilam
Kepalaku tertutup pada lebat
Wajahku bersih pada noda
Mataku kering pada sedu
Hidungku flu pada anyer
Kupingku riak pada sembilu
Bibirku manyun pada cecar
Tanganku lengket pada buku
Kakiku lambat pada ogah
Lisanku cinta pada rasa

Ibu,
Di pagi hari, kau disembur jin
Di pagi hari, kupeluk dingin
Di siang hari, kau ditinggal Dhuha
Di siang hari, kuukur bayang-bayang
Di sore hari, kau dikecup mentaru
Di sore hari, kukejar senja
Di malam hari, kau dirajut mimpi
Di malam hari, kucari buaian

Ibu,
Di musim hujan, kau menanam
Di musim hujan, kumenuai
Di musim kemarau, kau memancing
Di musim kemarau, kuberenang

Ah,
Ibu,
Eh,
Ibu,
Oh,
Ibu,

 

 

 

Dikutip dari Novel: “Sayang, Tanah Ini Cinta Kita…” -Ismail Maimun

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s